Tampilkan postingan dengan label pengalalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalalaman. Tampilkan semua postingan

Tips efektif untuk memimpin rapat



 ditranslate dari file berbahasa inggris dibawah ini:
download
Rapat yang berjalan secara efektif akan memungkinkan manajer(Bos,pemimpin,ketua rapat, dsb) dalam penyelesaian capaian dalam waktu rapat yang lebih singkat, yakni dengan ikut memanfaatkan dan menambah  keterlibatan seluruh anggota kelompok dan menerima semua masukannya.Maka, rapat bisa dipersingkat waktunya, jika ada fokus (hasil/tujuan rapat), anggota yang tepat, atau alat fasilitasi yang efektif. Di sisi lain, itu semua bisa menjadi cara yang sangat efisien untuk menyelesaikan dengan cepat sesuatu tugas/pekerjaan, untuk mendukung pembentukan sebuah lingkungan tim, dan untuk memungkinkan mengkolaborasi/bekerja sama beberapa orang-orang kunci untuk menghasilkan lebih baik hasilnya, daripada yang mungkin hanya bekerja secara mandiri.
Dimana ada beberapa langkah penting untuk fasilitasi capaian rapat yang sukses:
1.      Rapat dengan sebuah tujuan
Supaya rapat memiliki tujuan,walaupun mungkin kita hanya menjadi anggota, bila ingin berkontribusi dan rapat ingin berjalan sukses, alangkah baiknya jika dalam rapat kita memperisapkan hal-hal berikut:
• Jika Anda memerlukan informasi dari grup (misalnya Anda diberi/dipilih tugas/tanggung jawab dalam rapat sebelumnya, tapi anda memiliki masalah dalam tugas), tetapkan agenda yang jelas dengan pertanyaan kunci sebelumnya di rapat yang akan diadakan selanjutnya.
• Jika Anda ingin berbagi informasi, buat draf garis besar poin-poin penting Anda.
• Jika Anda hanya ingin membuat kelompok/tim kita dalam rapat solid, aturlah agar lingkungan interaktif itu sangat dianjurkan.
2. Komunikasikan tujuan rapat atau khususnya tugas/agenda anda dalam rapat
Yakni dengan:
• Sekarang, beritahu orang lain tugas/keinginan/tujuan rapat anda ! Pastikan lebih awal semua peserta mengetahui berapa lama deadline pertemuan akan berlangsung,di mana itu akan diadakan, dan informasi apa yang harus dibahas.

• Pastikan untuk memberi tahu semua peserta kelompok  apa tujuan dari tiap pertemuan tersebut sehingga diharapkan agar bisa dipersiapkan.
• Misal hanya karena Anda yang telah berinisiatif/menelepon untuk rapat tidak berarti Anda satu-satunya yang harus melakukan pembicaraan.
• Memungkinkan orang untuk berpartisipasi-berbagi informasi yang relevan sebelumnya, akan memastikan mereka datang, siap untuk berkontribusi, dan mengambil sorotan dari Anda pada saat bersamaan.
3. Siapkan Bahan pendukung, yakni:
• Siapkan bahan pendukung yang sesuai.
• Jika ini adalah sesi pengumpulan informasi misalnya, bawalah formulir atau alat untuk penyelesaiannya.
• Siapkan apapun yang akan mendukung untuk komunikasi poin-poin penting rapat Anda, kumpulkan informasi yang dibutuhkan, atau Lakukan penataan diskusi harus disertakan untuk menciptakan pengertian yang lebih kuat bahwa waktu setiap orang diberi kesempatan dengan baik.
4. Pastikan semua orang hadir untuk suatu tujuan
Harap pastikan bahwa setiap individu yang diundang ke pertemuan tersebut ada karena suatu alasan. Lebih penting lagi pastikan bahwa setiap peserta memahami dengan jelas peran spesifiknya. Saat merencanakan pertemuan Anda harus mempertimbangkan peran anggota tim, yakni dengan melihat/memikirkan:
• Bagaimana mereka bisa berkontribusi?
• Apakah mereka memiliki informasi penting, keterampilan, pengalaman yang dapat Anda manfaatkan dalam pertemuan tersebut?
Lalu, bantu mereka merasa berguna dengan membiarkan mereka mengetahui peran penting yang Anda inginkan untuk dimainkan. Karena, itu juga membantu dalam menjalankan rapat yang efektif, untuk menetapkan peran manajemen pertemuan sebelum Anda memulai rapat.
Inilah setidaknya yang Anda harus perlukan beberapa peran fasilitasi pertemuan yang spesifik, yakni mencakup:
 juru tulis: untuk merekam informasi penting, dan rapat tiap menit
 Peranti Whiteboard/semacam papan tulis/monitor, dsb: untuk menangkap/menulis poin-poin penting, pertanyaan secara visual di papan tulis.
 Pencatat waktu/semacam moderator: untuk terus mengikuti agenda, mengatur waktu tanya jawab, dsb
 "Pelaku setan"/ semacam orang yang bertugas menyemangati jalannya rapat: seandainya kelompok itu cenderung selalu setuju dengan semua saran,diam saja. Mungkin saja ini membantu (dan menyenangkan) untuk menetapkan seseorang untuk bermain sebagai “pelaku setan” semata-mata dengan tujuan menciptakan kreativitas, debat dan diskusi.
5. Hasil / kesepakatan ditangkap dan ditinjau
Sebelum Anda/Kita mengakhiri rapat, tinjau kembali item tindakan yang disepakati, bersama dengan siapa pihak yang bertanggung jawab untuk setiap item, sebagaiamana yang dibahas dalam rapat tersebut.Dan Jika Anda telah menugaskan juru tulis pertemuan atau perekam flipchart sebelumnya, maka langkah ini seharusnya relatif sederhana.
6. Langkah selanjutnya didefinisikan/diputuskan, Yakni dengan:
• Diskusikan kerangka waktu untuk menyelesaikan item tindakan, dan juga pastikan untuk meninjau langkah selanjutnya.
• Tetapkan harapan sekarang untuk pertemuan tindak lanjut, jika perlu. Misalnya menetapkan tugas mencari dana penting untuk mendukung tujuan rapat.
• Biarkan semua orang tahu apa yang Anda antisipasi dan perlu dicakup dalam pertemuan berikutnya.
7. Tunjukkan apresiasi anda, yakni dengan:
• Setiap waktu seseorang berharga. Jadi, pastikan untuk berterima kasih atas partisipasi mereka dan kontribusi.
• Memotivasi peserta kunci dengan memberi tahu mereka setelah pertemuan betapa membantu kontribusi mereka saat sedang rapat.
• Ini akan membantu memastikan bahwa pada saat Anda perlu mengadakan rapat, Anda akan menemukan siapkah peserta yang bersedia menjalankan tugas.
8. Renungkan proses Anda, Yakni dengan:
• Identifikasi apa yang berjalan dengan baik, dan apa yang tidak.
• Belajarlah dari pengalaman Anda dan temukan cara untuk memperbaiki diri saat Anda melangkah maju.

Analisis film Tanda Tanya (2011)


Nama    : Muhammad Habibul Musthofa
NIM       : 15520003
Matkul  : Agama dan Gender


Analisis film Tanda Tanya (2011)
1.       Judul Film            : Tanda Tanya
-          Menceritakan tentang 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun yang memiliki restoran cina, keluarga Soleh seorang pria penggangguran, tapi memiliki isteri yang cantik dan solehah, keluarga Rika seorang janda dengan seorang anak, yang memiliki hubungan dengan Surya, pria muda yang tidak ingin menikah. Dimana keluarga-keluarga ini saling berhubungan dengan permasalahan pandangan status, agama, dan suku yang berbeda.
2.       Analisis Gender :
a.       Konstruksi Sosial
 Perlu diketahui bahwa situasi masyarakat sebagian besar dikonstruksi oleh manusianya sendiri. Manusia diajak untuk tidak mempersoalkan kemapanan (budaya) yang telah terjadi. Seolah budaya (tradisi,adat) dan teologi adalah daerah tabu atau terlarang bagi manusia untuk menjamahnya. Daerah terlarang ini dimanfaatkan bahkan dimanipulasi oleh manusia yang meletakkan  dirinya “diatas sesamanya”.  Manusia yang berada di pinggiran dikonstruksi sebagai manusia kelas dua (subordinat).  Diajarkan kepada mereka melalui pendidikan (tradisi, adat) bahwa situasi seperti ini sudah “kodrat”, tidak dapat diubah.[1]
Dalam analisis ini, tentunya banyak konstruksi-konstruksi sosial yang dibentuk dalam cerita film ini.  Pandangan-pandangan yang membedakan dan  merendahkan terhadap status,agama,dan suku sangat terlihat dalam film ini. Sebagai contoh tercuplik dalam perkataan dalam film ini, “sipit,dasar cina edan”, “ orang murtad gak boleh ke masjid”, “ orang islam jangan masuk ke gereja” dan sebagainya.  Namun, dalam tulisan ini akan fokus dalam permasalahan gender yang terjadi, yang mana akan menyorot tokoh wanita, terutama tokoh bernama Rika dan Menuk. Yang mana tokoh-tokoh tersebut mengalami perlakuan atau  sikap yang “kurang adil”.
b.       Bentuk-bentuk Diskriminasi
                                                                                                         I.            Beban Ganda
Dalam film ini tokoh Menuk menjadi perhatian dalam permasalahan gender menyangkut beban ganda. Tokoh Menuk adalah seorang isteri yang bekerja, memiliki seorang anak dan suaminya bernama Saleh, seorang yang taat beragama,namun seorang yang pengangguran/susah cari kerja. Pokok bahasan disini yakni Menuk yang seorang isteri yang bekerja menafkahi keluarga dan di dalam rumah dia juga menjadi ibu rumah tangga,melayani suami, mengurus anak sementara suaminya santai-santai di teras rumah.
Disini terilhat bentuk ketidakadilan terhadap wanita yang mana seorang isteri memiliki dua tugas berat (beban ganda).   Dalam hal ini seharusnya perlu adanya pembagian tugas, terutama tugas di dalam rumah.
                                                                                                       II.            Kekerasan
Bentuk ketidakadilan berupa kekerasan juga terjadi terhadap tokoh Menuk. Kekerasan ini hanya berbentuk kekerasan verbal bukan fisik. Awal terjadinya kekerasan bermula dari permasalahan sang suami yang pengangguran. Dari hal itu, sang suami mulai terbebani, yang seharusnya menafkahi keluarga tapi malah isterinya yang menfakahi. Karena itu, terjadilah percekcokan, sang suami merasa malu, minta cerai. Hal itulah bentuk kekerasan verbal, terlihat ini bukan kesalahan sang isteri, namun sebenarnya karena suami yang pengangguran. Namun disini, wanita mendapat perlakuan ketidakadilan.
                                                                                                     III.            Marginalisasi dan Stereotipi
Tokoh yang mengalami marginalisasi (terpinggirkan) dan stereotip (pelabelan) adalah Rika. Rika adalah seorang janda beranak satu dan memiliki teman pria bernama Surya. Sebenarnya dalam kasus yang diterima Rika yang seorang wanita juga bisa terjadi kepada seorang laki-laki. Tokoh Rika mengalami marginalisasi dan stereotip bermula karena tindakan dia yang menjadi seorang yang murtad (keluar dari islam) dan hubungan special dia terhadap seorang laki-laki.  Karena sikap dia yang begitu, dia lalu terpinggirkan, dihakimi orang-orang sekitar. Dan juga karena sikapnya itu dia dicap sebagai wanita gak baik, wanita kafir di lingkungan sekitarnya.

c.       Akar Diskriminasi
Dalam kasus ini akar-akar diskriminasi terletak pada kultur “patriarki” yang terlegimitasi dalam agama atau pun tradisi-tradisi di masyarakat.  Sehingga dalam hal ini wanita mengalami ketidakadilan berupa otoritas rendah dan kekerasan.
3.       Kesimpulan        :
 peran ganda yang hanya ditujukan kepada wanita, peran dimana selain sebagai ibu rumah tangga, wanita juga bekerja di luar rumah mencari penghasilan. Juga stereotip yang mengatakan wanita emosional, lemah yang seakan-akan menjadi “kodrat wanita”.  Telah membuat wanita menjadi termarginalisasi dan penomorduaan, yang mana telah menciptakan kultur “patriarki”. Kultur dimana laki-laki mendominasi (mayoritas) dan wanita menjadi minoritas. Sehingga menciptakan kekerasan terhadap wanita dan berbagai bentuk ketidakadilan.  

Maka itu, diperlukan dekonstruksi ,seperti yang dikerjakan Helen Cixous. Dimana berusaha menumbangkan ketertutupan oposisi biner hirarkis antara laki-laki dan wanita yang selama ini terlanjur dianggap sesuatu yang “kodrati”.[2]





[1] Kris Budiman, Feminografi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), viii
[2] Kris Budiman, Feminografi,125

“Profesionalisme Media” Online di Indonesia



http://www.acehtrend.co/img_6663/

Pemberitaan media harusnya obyektif,netral, dan menjunjung tinggi keadilan. Namun,hampir tidak ada media yang sedemikian rupa, sebagaimana menurut paham Marx, media adalah agen utama untuk melanggengkan dominasi suatu kelas sosial. Karenanya media hanyalah alat propaganda  suatu institusi media untuk tujuan-tujuan tertentu. Setidaknya, institusi media pastilah mengarah ke industrisasi, yang mana akan menggunakan berbagai cara untuk keuntungan pihaknya.
Oleh karenanya, bila seseorang  tidak bisa lepas dari media sebaiknya memiliki pemikiran kritis terhadap media. selain mencari asal sumber berita atau media penyiarnya untuk memperoleh keaslian berita, dengan konfirmasi ke sumber resminya,yang mana semakin terkenal dan jelas suatu institusi media, maka semakin terpercaya. Kita haruslah verifikasi institusi media dengan membandingkan dengan berbagai institusi media lainnya. Pastilah kita akan menemukan ciri khas setiap institusi media, seperti dari ragam beritanya,intensitasnya,titik tekannya sebagai contoh:  hanya menonjolkan berita politik. Lebih lanjut, semakin ganjil dan menyimpang suatu berita dari pola umumnya pastilah ada maksud tertentu, yang mana akan terjadi pro dan kontra suatu berita pula.
Sebagaimana yang akan saya analisa dalam pemberitaan media sebagai berikut. Berita pada tanggal 23 Maret 2017, yakni kasus berita korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk Elektronik, hasil persidangan  Miryam Haryani sebagai saksi yang mencabut BAP,  karena mengaku ditekan penyidik KPK saat diperiksa, sehingga menurutnya BAP tidak sesuai. Berita di atas sangatlah kompleks, saya hanya mencoba mengambil pola umum yang menurut saya hampir diketahui  dan diterima semua orang. Hal-hal yang mengundang pro dan kontra tidak perlu disebutkan lebih jauh, saya harus netral,tidak perlu mendukung Miryam atau  mendukung KPK.
Namun, terlihat pemberitaan kasus tersebut, dari berbagai media sangat beragam, terlihat media-media sudah mulai memberikan berbagai pilihan, seperti mengarahkan antara mendukung Miryam atau KPK yang kasusnya masih berlanjut. Disini saya hanya membandingkan judul berita kasus tersebut, yang viral pada kamis, 23 Maret sekitar jam 16:00-17:00an WIB, tidak sampai isi yang sudah kompleks. Seperti berita online dari kompas ,  memberi Judul “Mengaku diancam, Miryam Haryani akan dikonfrontasi dengan penyidik KPK”.[1] lalu dari viva ,memberi judul “Cerita saksi E-KTP ditekan penyidik, Sampai Bamsoet-Aziz BAB.”[2], lalu dari Tribunnews,berjudul Penyidik KPK disebut ancam anggota DPR Miryam saat Pemeriksaan kasus e-KTP”.[3] Sementara dari Republika , berjudul “Sambil menagis, anggota DPR Fraksi Hanura cabut BAP kasus KTP-EI”[4], lalu dari detik, berjudul “ Miryam: Novel sebut pemeriksaan Aziz dan Bamsoet, saya takut pak” [5]dan okezone ,” bantah terlibat proyek E-KTP, politikus  Hanura menangis di persidangan”. [6]
Tidak perlu jauh medalami isi berita di atas, dari berbagai judul di atas bila kita cermat akan menemukan berbagai perbedaan. Berita di atas adalah kasus yang sama, tapi terlihat bagaimana penyajian redaksi dari berbagai media tersebut berbeda-beda. Dari berita di atas, saya menemukan sesutu yang ganjil, pertama, penekanan tentang “fraksi Hanura”. Kedua, penulisan tentang Kartu Tanda Penduduk Elektronik.
Pertama, penekanan tentang “fraksi Hanura”. Dari semua media di atas, isi beritanya  menuliskan Miryam Haryani sebagai bagian dari fraksi partai Hanura, tapi terlihat terdapat perbedaan penekanan dalam letak penulisannya. Media berita online nasional Okezone dan Republika terang-terangan menuliskan istilah “Hanura” di bagian judul berita. Lalu, untuk media berita online seperti Detik dan Viva menuliskan pada bagian isi beritanya. Sementara Tribbunnews dan Kompas juga menuliskan pada beritanya, namun agak disembunyikan, di media Kompas , dituliskan dalam link berita yang berbeda, itupun dibagian tengah isi berita, di link berita satu tidak disebutkan, di link berita lain disebutkan, jadi hanya satu dua kali dituliskan itupun di link berita yang lain. Kalau di Tribbunnews,juga hanya dituliskan dibagian tengah isi berita saja.  Dari perbedaan penekanan di atas, kesimpulan kasar saya yakni ada berita Media online yang mencoba menjatuhkan keberadaan partai Hanura, lalu ada yang Netral sebagiamana adanya, dan terakhir mungkin ada yang mencoba melindungi keberadaan partai Hanura. Tapi sekali lagi, kesimpulan saya  hanayalah partikular yang mungkin hanya berlaku pada kasus di atas dan tidak bermaksud menjatuhkan media online yang terkait.
Kedua, penulisan tentang Kartu Tanda Penduduk Elektronik. Semua media memberikan singkatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik dengan istilah e-KTP/E-KTP, kecuali media Republika yang memberikan singkatan dengan istilah KTP-EL. Setelah menelusuri web berita Republika ternyata semenjak kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik menguat Republika sudah menggunakan istilah KTP-el, terlihat pada berita tanggal 07 Desember 2017 yang berjudul “KPK Periksa Ganjar Pranowo Terkait Kasus KTP-el”, tapi dalam isi berita tersebut masih menuliskan istilah KTP elektronik dengan e-KTP. Dari hasil penelusuran di atas jelaslah ada maksud tertentu Republika mengganti istilah e-KTP dengan KTP-el/KTP-El, walaupun mungkin itu hanya sekedar pemilihan bahasa saja, yang mungkin bahasanya lebih baku.
Dari penjelasan di atas, saya menarik kesimpulan bahwa media, terutama media yang sangat praktis dan cepat disiarkan ke masyarakat seperti media online, cenderung kurang memperhatikan kebenaran dan keutuhan suatu berita, namun lebih mementingkan cepat dan pertama update publikasi untuk memperoleh berita. Lalu menggunakan isu-isu tertentu yang cenderung unik ataupun  kontroversial untuk memperoleh rating berita ataupun mem-blowup berita tertentu seperti perpolitikan untuk tujuan tertentu.


[1] Mengaku diancam, Miryam Haryani akan dikonfrontasi dengan penyidik KPK , Diakses di http://nasional.kompas.com/read/2017/03/23/16433271/mengaku.diancam.miryam.haryani.akan.dikonfrontasi.dengan.penyidik.kpk , pada 25 Maret 2017
[2] Cerita saksi E-KTP ditekan penyidik, Sampai Bamsoet-Aziz BAB ,Diakses di http://m.viva.co.id/berita/nasional/897328-cerita-saksi-e-ktp-ditekan-penyidik-sampai-bamsoet-aziz-bab ,pada 25 Maret 2017
[3] Penyidik KPK Disebut Ancam Anggota DPR Miryam Saat Pemeriksaan Kasus e-KTP, diakses di http://www.tribunnews.com/nasional/2017/03/23/penyidik-kpk-disebut-ancam-anggota-dpr-miryam-saat-pemeriksaan-kasus-e-ktp , pada 25 Maret 2017
[4] Sambil Menangis, Anggota DPR Fraksi Hanura Cabut BAP Kasus KTP-El, diakses di http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/03/23/on9h8j361-sambil-menangis-anggota-dpr-fraksi-hanura-cabut-bap-kasus-ktpel ,pada  25 Maret 2017
[5] Miryam: Novel sebut pemeriksaan Aziz dan Bamsoet, saya takut pak, diakses di http://news.detik.com/berita/d-3455231/miryam-novel-sebut-pemeriksaan-aziz-dan-bamsoet-saya-takut-pak , pada 25 Maret 2017
[6] Bantah Terlibat Proyek E-KTP, Politikus Hanura Menangis di Persidangan , diakses di http://news.okezone.com/read/2017/03/23/337/1650106/bantah-terlibat-proyek-e-ktp-politikus-hanura-menangis-di-persidangan , pada 25 Maret 2017

Pengalaman konsultasi online ke lembaga psikologi


Berikut, Adalah pengalaman pertama saya konsultasi psikologi, itupun Hanya lewat online,,di situs ini pijarpsikologi, pijarpsikologi.org ,diweb/situs tersebut saya mengisi formulir Gitu, saya menuliskan keluh Kesah saya,,kalian bisa bebas menuliskan apa aja,,mau masalah percintaan,pertemanan, melakukan kesalahan, atau sifat kalian yang Malu,pendiam, intinya hal2 yang membebani pikiran Dan hidup kalian.
Saya sendiri menuliskan keminderan saya ,sifat2 saya, tulis sebanyak-banyaknya uneg2 saya. Sayangnya respon dari web psikologi ini lama banget. Aku kirim uneg2 saya 6 Bulan Lalu,,Baru  ditanggapin Sekarang. Itulah, responnya bisa berbulan2,,sampai saya Lupa permanen pernah ngirim uneg2.
Dibawah ini respon dari pijarpsikologi yang saya terima. Bacalah sampai habis, jika pengen Tahu curhatan saya, hehehe,,,,


Terima kasih atas kepercayaan Anda untuk bercerita di Pijar Psikologi. Perkenalkan, saya
Oneng. Saya adalah salah satu konselor Pijar.

Selamat sore Mas Musthofa!
Membaca uraian Musthofa saya sangat paham dengan rasa kurang nyaman dengan masa lalunya....tapi....apakah orang yang miskin tidak boleh kaya dan sukses? Suatu tekanan dan kondisi kurang mampu seharusnya menjadi suatu motivasi bukan sebaliknya....

Saya ajak Mas Musthofa untuk selintas melihat kebelakang benarkah mas Musthofa tidak beruntung..
Sampai sekarang....masih sekolah? Masih kan, kuliah malah berarti bisa membayar entah karena bantuan beasiswa atau biaya pribadi
Seseorang yang bisa kuliah berarti memperolah gizi yang baik karena otak berkembang dengan baik. Ini karena ada yang menyediakan makanan bergizi
Kuliah berarti perlu transport...bisa kan? Tak perlu naik gunung, tak perlu berjalan kaki seperti teman2 kita daerah timur yang utk belajar tingkat SD harus naik gunung jalan setapak
Saya rasa tak perlu saya jabarkan lagi berbagai keuntungan Musthofa....

Nah sekarang saya bertanya selama 24 jam setiap hari Apa yang dilakukan oleh Musthofa? Kuliah pulang sajakah?
Apakah sudah bisa produktif?
Apakah sudah bisa berguna untuk orang di lingkungannya?
Apakah sudah beraktivitas sehingga badan merasa nyaman

Kita mulai dari
Sudah produktif?
Kenapa miskin disalahkan? Kita tidak mau miskin ya kita yang harus berubah....lakukan sesuatu yang produktif. Orang yang kaya juga akan jatuh miskin kalau tidak bisa produktif. Coba digali diri Musthofa  potensi yg bisa diberikan atau dijual....mengajar jadi tentor, jualan, jual jasa semua bisa
Berguna utk orang lain
Saat ini banyak usaha mencari orang untuk diajak kerjasama namun apa yang terjadi? Tidak ada orang yang mau bekerja keras. Padahal yang paling baik banyak teman banyak peluang. Jadi? Cari peluang berarti banyak bergaul positif
Aktivitas
Selama ini apakah Musthofa hanya senang di dalam kamar? Atau bisa beraktivitas seperti futsal, jogging, berenang

Tidak ada yang mahal hanya kita perlu kreatif.
Kenapa kuatir dengan miskin? Kl Musthofa miskin tapi daya juang memperbaiki ekonomi  sangat baik saya sangat yakin banyak wanita akan mau berteman. Tapi jangan lupa juga wanita juga banyak yang hanya mau yang kaya tanpa mau membantu berjuang....Jadi? Semua tergantung dari cara pandang dan pergaulan kita...
Tetap semangat ya....dan selalu bergaul yang positif!!!!☺

Terima kasih telah berbagi.
Salam,
Pijar Psikologi.

Jawaban ini ditulis oleh: Oneng N.

Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, silahkan kembali mengisi formulir di pijarpsikologi.org/konsultasi-2

Untuk sementara waktu, layanan kami belum bisa memberikan jasa konsultasi berkelanjutan.
Konselor-konselor kami yang lain akan membantu Anda.

Kunjungi situs pijarpsikologi, pahami dirimu, dan bagikan pengetahuan yang kamu temukan di dalamnya. 

POSTINGAN TERBARU

Keselamatan Umat non Islam dalam Al-Qur'an

MENINJAU ULANG POSISI AHLI KITAB DALAM AL-QUR’AN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hermeneutika Dosen: Prof. Syafa...