Tampilkan postingan dengan label info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info. Tampilkan semua postingan

Patologi Sosial dan Masalah Sosial Serta Ruang Lingkupnya




Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Patologi Sosial
Dosen Pengampu : Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., M.A.
Oleh :
Muhammad Habibul Mushtofa           (15520003)

JURUSAN STUDI AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2017/2018



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

   Setiap manusia memiliki masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Masalah-masalah  itulah yang akan mempengaruhi tindakan seseorang guna mengatasi masalahnya. Bagaimana cara seseorang menyikapi dan mengatasi masalah itulah pada akhirnya akan membentuk kepribadian seseorang. Jika kita mencari darimana masalah-masalah itu datang?, maka, lingkungan sekitarlah yang sering kali dicap sebagai sumber utama hadirnya masalah-masalah pada  diri seseorang, namun yang sering dilupakan seseorang, lingkungan sekitar jugalah yang menyediakan sumber utama untuk mengatasi masalah-masalah seseorang. Hasilnya, mungkin masih banyak orang tidak mampu mengatasi masalah-masalahnya. Sebagaimana mungkin kita berpikir mampu mengatasi masalahnya tanpa bantuan lingkungan sekitar, hal itu bisa jadi benar, namun sebenarnya ada andil lingkungan sekitar dalam mengatasi masalah kita walaupun tanpa kita sadari.
      Masalah-masalah yang tidak diatasi dan dibiarkan berlarut-larut, pastinya akan merugikan diri sendiri hingga lingkungan sosial sekitar. Apalagi di era yang semakin kompleks ini masalah dapat hadir dari mana saja, masalah-masalah itu akan terakumulasi dan semakin sulit diatasi, bahkan akhirnya kadang dianggap wajar. Padahal, hal tersebut secara lembut akan merusak manusia dan lingkungan sosialnya,lalu bagaikan bom waktu akan meledak dan menimbulkan krisis sosial hingga multidimensional. maka, mencoba menjawab masalah-masalah di atas,  hadirnya kajian patologi sosial adalah menjadi salah satu jawaban mengatasi masalah sosial di atas. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas tentang patologi sosial, bagaimana kacamata patologi sosial dalam mengatasi masalah-masalah sosial manusia.
B.     Rumusan Masalah
Membatasi penulisan makalah, dalam tulisan ini dirumuskan masalah sebagai berikut:
                              1.            Apa itu Patologi sosial dan Masalah Sosial?
                              2.            Seperti apa ruang lingkup kajian Patologi sosial?



PEMBAHASAN

A.    Patologi Sosial dan Masalah Sosial
a)    Pengertian Patologi Sosial dan Masalah Sosial

Secara asal akar katanya, Patologi Sosial berasal dari kata Pathos yang artinya penderitaan, penyakit dan kata Logos yang berarti Ilmu.  Jadi, patologi sosial adalah ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap “sakit” yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial.[1] Konsep “sakit” ini bermula dari kajian penyakit di bidang ilmu kedokteran maupun Biologi dari makhluk hidup yang kemudian diberlakukan juga untuk masyarakat, karena masyarakat sendiri tak ubahnya organisme, sehingga dapat pula terkena penyakit. Dengan kata lain, patologi sosial dimaksudkan ilmu tentang asal-usul dan sifat-sifatnya penyakit sosial atau masyarakat.[2]
Pada awal abad ke-20, para sosiolog mendefinisikan patologi sosial sebagai semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal.
Maka, menurut Kartini Kartono sendiri penyakit sosial itu adalah segenap tingkah laku manusia yang dianggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum dan adat istiadat atau tidak terintegrasidengan tingkah laku umum. Dimana tujuan patologi sosial sendiri ialah menyalurkan secara lebih baik, menyembuhkan atau memberantas gejalanya, atau setidaknya memaklumi dan mencegah timbulnya atau mencegah meluasnya gejala sosiapatik tersebut.[3] Dimana hal itu demi kehidupan manusia yang teratur dalam bermasyarakat.
Manusia sendiri dalam hidupnya akan selalu berusaha untuk menyempurnakan diri, menyesuaikan diri dengan masyarakat dan alam lingkungannya. Jika usaha untuk melakukan itu mengalami rintangan sehingga yang bersangkutan tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat, maka itu disebut mengalami maladjusment. Keadaan seperti itu oleh dua orang sosiolog bernama J.L. Gillin dan J.P. Gillin disebut sebagai social disorganization atau sosial pathology. Lalu J.L. Gillin dan J.P. Gillin pun memberikan batasan pengertian mengenai social pathology sebagaimana yang tertuang dalam bukunya Cultural Sociology. Dimana, patologi sosial adalah: [4]
1)      Satu kajian tentang disorganisasi sosial atau maladjusment yang di dalamnya dibahas tentang arti luas (besarnya), sebab-sebab, hasil-hasil, dan usaha-usaha perbaikan atau mengobati faktor-faktor itu yang dianggap dapat mengganggu atau mengurangi penyesuaian sosial (social ajusment), seperti kemiskinan, penggangguran, lanjut usia, penyakit rakyat, lemah ingatan/pikiran, kegilaan, kejahatan, perceraian, pelacuran, ketegangan-ketegangan dalam keluarga dan lain sebagainya.
2)      Patologi sosial berarti penyakit-penyakit masyarakat atau keadaan abnormal pada suatu masyarakat.
Sementara itu, penyakit sosial merupakan masalah-masalah sosial yang harus diatasi. Dimana masalah sosial itu adalah:[5]
      1.            Semua bentuk tingkah laku yang melanggar atau memperkosa adat istiadat masyarakat(dan adat istiadat tersebut diperlukan untuk menjamin kesejahteraan hidup bersama).
      2.            Situasi sosial yang dianggap oleh sebagian besar dari warga masyarakat sebagai mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya, merugikan orang banyak.
Dengan demikian, dari penjelasan masalah sosial di atas, dapat diketahui pula yang menjadi kajian patologi sosial ialah problem kemasyarakatan yang timbul sebagai hasil interaksi manusia yang tidak mencapai kesempurnaan sehingga menimbulkan rusaknya nilai-nilai sosial yang disebabkan adanya tingkah laku sosial yang salah. Meskipun yang terkena problem itu adalah pribadi individu tetapi yang bersangkutan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat secara luas karena masalahnya saling berkaitan satu sama lain serta sangat bervariasi menurut situasi setempat, misalnya di kota besar, di desa dan lainnya.[6]
b)    Eksistensi Patologi Sosial
Dalam kajian patologi sosial ini, telah terjadi perdebatan mengenai aksiologi atau masalah nilai dalam patologi sendiri. Kriteria seperti apa yang dimaksud dengan “masalah sosial”? siapa yang berhak menetukannya?.
Ada pendapat bahwa pertimbangan nilai (mengenai baik dan buruk) itu sebenarnya bertentangan dengan ilmu prngetahuan yang obyektif. Sebab, penilaian itu cenderung sangat subjektif. Karena itu ilmu pengetahuan garus meninggalkan generalisasi ethis dan penilaian. Di sisi lain, ada pendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia bahkan kaum ilmuwan pun tidak mungkin tidak menggunakan pertimbangan nilai. Sebab, pemikiran mereka itu selalu saja merupakan keputusan yang dimuati dengan penilaian-penilaian tertentu.[7]
Selain itu, ilmu pengetahuan sendiri selalu mengandung nilai-nilai tertentu. Dimana menyangkut masalah mempertanyakan dan memecahkan kesulitan hidup secara sistematik itu selalu ada jalan menggunakan metode dan teknik yang berguna dan bernilai. Dimana karena untuk bisa memenuhi kebutuhan manusiawi  yang hal itu sangatlah wajar. Baik pemenuhan secara individu maupun sosial, pada akhirnya selalu ditujukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang bernilai. Sebagaimana penggunaan penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan modern untuk menguasai alam itu digunakan utuk kesejahteraan dan pemuasan hidup pada umumnya. Dengan demikian pula, ilmu pengetahuan sendirinya juga memiliki sistem nilai stidaknya nilai praktis.[8]
Kedudukan Patologi sosial sendiri merupakan ilmu pengetahuan yang empirik deskriptif.  Patologi sosial dalam kajian ilmu pengetahuan termasuk dalam kategori social science, dengan kata lain patologi sosial merupakan cabang dari sosiologi. patologi sosial sebagai bagian dari sosiologi pastinya memiliki sifat yang sama dengan sosiologi, hanya saja patologi sosial yang lahir setelah sosiologi ini bergerak ke arah kajian khusus yakni tingkah laku manusia atau masyarakat yang patologis.[9]
Secara umum masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kita adalah objek kajian dari patologi sosial ini. Manusia yang memiliki masalah-masalah sosial yang cenderung menyimpang akan menjadi sosiopatik yakni menjadi sakit secara sosial. Dimana masalah sosial ini disebakan pleh multifaktor semisal faktor politik, sosial dan budaya.[10]
Sosiopathik sendiri dalam kajian ini dikriteriakan dalalam:
-Tingkah sosiopathik ini mempunyai ciri-ciri khusus dan dianggap sosiopathik pada waktu dan tempat tertentu. 
-Penyimpangan tingkah laku itu merupakan produk dari konflik-konflik sosial dan konflik internal/pribadi lalu ditampilkan keluar dalam bentuk disorganisasi pribadi dan disorganisasi sosial.
-Tingkah laku sosiopatik itu merupakan bentuk penyimpangan yang jelas ditolak oleh kebanyakan anggota masyarakat.
-Munculnya reaksi-reaksi masyarakat terhadap tingkah laku yang menyimpang dalam bentuk: penerimaan sampai penolakan. Semua itu sangat bergantung pada derajat penampakan dari penyimpangan tingkah laku.
-Orang mengadakan larangan dan pembatasan terhadap kebebasan berpartisipasinya para pelaku penyimpang. Larangan dan pembatasan tersebut bergantung pada status, peranan, pendifinisian diri, dan penampakan yang jelas dari tingkah laku menyimpang mereka. Artinya, makin menyolok dan jelas tingkah laku penyimpang tersebut, dan semakin merugikan kepentingan umum, maka semakin hebatlah reaksi umum terhadap tingkah laku menyimpang tersebut.


B.   Ruang Lingkup Patologi Sosial
a)    Bidang Kajian Patologi Sosial
Patologi sosial sendiri memiliki beberapa objek ataupun konsep yang berkaitan yakni seperti: masalah sosial, disorganisasi sosial, social maladjusment, sociopathic, abnormal hingga sociatri. Oleh karena itu,  bidang kajian patologi sosial sendiri sangatlah kompleks. Sebagaimana pembagian bidang kajian menurut beberapa ahli sebagai berikut:
                  1.            Lawrence Guy Brown, dalam bukunya “Social Pathology” membagi dalam:
                                           I.            Personal disorganization, meliputi : 1). kekacauan dalam bidang bicara, 2). patologi dibidang sosial, 3). pathological drinking, 4). pathology of eating, 5). Pathological ethic, 5)disorder of emosion, 6). Phisical illness, 7) mental deliquent, 8). Psychopathic personality, 9). Sucide, 10). Mental deficiency, 12). Deliquents/criminal.
                                        II.            Social disorganization, meliputi: 1). The family in social disorganized, 2). Educational in social disorganized, 3). Religion in social diorganized, 4). Science in social disorganized, 5).economic factor in social disorganized, 6). political factor in disorganized, 7). Legal factor in social disorganized, 8). Idiological factor in social disorganized, 9). The press factor in social disorganized, 10). Social psychological epidemics, 11). War in social disorganization.
                  2.        William F. Ogburn dan M.F. Nimkoff dalam bukunya “sosiology”, membagi social disorganization dalam:1). Unemployment, 2). Business depression, 2). Poverty, 3) Ill-health, 4). Crime, 5). Race conflict, 6). Family disorganized, 7). Labour problem.
                  3.          Dennis E. Poplin, dalam bukunya “social Problems” membagi social problem dalam 3 kelompok yaitu:
a)      Deviant behavior, yang berisi: Mental disorders, alcoholism, drug abuse and narcotic addiction, deviant sexual behavior, juvenile deliquency, crime.
b)      Problem of Structure, berisi: poverty, racial and ethnic, prejudice and discrimination, sex roles and  sexism, growing old, dan over population.
c)      Institusional crises, berisi: the family, education and criminal justice.
Demikian pembahasan bidang kajian patologi sosial dari para ahli di atas, dimana akan memberikan banyak gambaran tentang obyek material dari kajian patologi sosial sendiri.
b)    Bentuk  Kajian Patologi Sosial
Berikut ini beberapa bentuk kajian dari patologi sosial:
1)      Kriminalitas
Kriminalitas atau kejahatan itu bukan merupakan peristiwa herediter (bawaan sejak lahir, warisan) juga bukan merupakan warisan biologis. Tingkah laku kriminal itu bisa dilakukan oleh siapapun, baik wanita maupun pria, dapat berlangsung pada usia anak, dewasa atau pun lanjut umur. Tindak kejahatan bisa dilakukan secara sadar: yaitu difikirkan, direncanakan dan diarahkan pada satu maksud tertentu secara sadar dan benar. Namun bisa juga dilakukan setengah sadar, misalnya didorong oleh impuls-impuls yang hebat, didera oleh dorongan-dorongan paksaan yang sangat kuat dan oleh obsesi-obsesi. Kejahatan bisa juga dilakukan secara tidak sadar sama sekali. Misalnya karena terpaksa untuk mempertahankan hidupnya dari ancaman, seseorang harus melawan dan terpaksa membalas menyerang, sehingga terjadi peristiwa kejahatan.[12]
2)      sex pathologi
sex pathologi merupakan bagian dari patologi sosial yang mendapat pembahasan serius dari para ahli kemasyarakatan. Sex pathologi sesungguhnya adalah suatu perbuatan yang maladjustment dengan keadaan lingkungannya. Dimana maladjusment ini maksudnya, seorang individu maupun kelompok sebagai anggota masyarakat tidak bertingkah laku sesuai dengan nilai sosial yang terdapat di dalam masyarakat. Pembahasan tentang seks patologi sendiri bermula sejak masyarakat mengatur tata hubungan kelamin karena sepanjang sejarah kemasyarakatan persoalan seks ini mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Ada yang menganggasp sebagai suatu hal yang biasa kalau dikerjakan, tetapi ada pula yang menganggap hal itu tidak baik, tergantung nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan sikap mereka terhadap perbuatan itu.[13]
3)       Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja)
Juvenile berasal dari kata latin “juvenilis”  yang artinya remaja, anak-anak, anak muda, ciri karakteristik masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sementara Delinquent berasal dari kata latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan. Yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, a-sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau,penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, dursila dan lain-lain. Dilakukan anak muda di bawah 22 tahun. Sehingga diketahui Juvenile deliquency ialah perilaku jahat atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan nentuk tingkah laku yang menyimpang.[14] Kenakalan anak-anak sendiri merupakan gejala sosial yang terdapat di seluruh negara belahan dunia. Baik negara kecil maupun besar, negara maju atau begara berkembang maupun negara terbelakang. [15]



PENUTUP
Kesimpulan
Patologi sosial adalah semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal yang bertujuan menyalurkan secara lebih baik, menyembuhkan atau memberantas gejalanya, atau setidaknya memaklumi dan mencegah timbulnya atau mencegah meluasnya gejala sosiapatik tersebut.
Sementara masalah sosial itu adalah:1)Semua bentuk tingkah laku yang melanggar atau memperkosa adat istiadat masyarakat(dan adat istiadat tersebut diperlukan untuk menjamin kesejahteraan hidup bersama). 2)Situasi sosial yang dianggap oleh sebagian besar dari warga masyarakat sebagai mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya, merugikan orang banyak.
Ruang lingkup patologi sosial sendiri memiliki beberapa objek ataupun konsep yang berkaitan yakni seperti: masalah sosial, disorganisasi sosial, social maladjusment, sociopathic, abnormal hingga sociatri. Oleh karena itu,  bidang kajian patologi sosial sendiri sangatlah kompleks. Sebagaimana pembagian bidang kajian menurut beberapa ahlinya sedikit berbeda dan bervariasi. Sebagaimana Lawrence Guy Brown membagi dalam Personal disorganization dan Social disorganization. Sementara Dennis E. Poplin, membagi dalam:Deviant behavior, Problem of Structure, dan Institusional crises. Lalu William F. Ogburn dan M.F. Nimkoff dalam bukunya “sosiology”, membagi social disorganization dalam:1). Unemployment, 2). Business depression, 2). Poverty, 3) Ill-health, 4). Crime, 5). Race conflict, 6). Family disorganized, 7). Labour problem.





DAFTAR PUSTAKA
Asyari, S. Imam. . Patologi Sosial. Surabaya: Usaha Nasional.
Kartono, Kartini. 1988. Patologi Sosial. jilid 1,ed. 2, cet. 3.Jakarta:Rajawali Press.
Kartono,Kartini. 1986. Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja, ed.1, cet. 1.Jakarta:Rajawali.









[1] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm.1
[2] S. Imam Asyari,Patologi Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 9
[3] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. Vii.
[4] S. Imam Asyari,Patologi Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 10-11.
[5] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. 1-2.

[6] S. Imam Asyari,Patologi Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 11
[7] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. 2.
[8] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. 2-3.
[9] S. Imam Asyari,Patologi Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 14-15.
[10] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. 7.
[11] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. 10.
[12] Kartini Kartono, Patologi Sosial, jilid 1,ed. 2, cet. 3, (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm. 133.
[13] S. Imam Asyari,Patologi Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 70.
[14] Kartini Kartono, Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja, ed.1, cet. 1, (Jakarta:Rajawali, 1986), hlm.7
[15] S. Imam Asyari,Patologi Sosial, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 82.

Laporan Hasil Kunjungan Lapangan ke Vidyasena Vihara Vidyaloka Yogyakarta



Nama  : Muhammad Habibul Musthofa
NIM     : 15520003
Prodi    : Perbandingan Agama

Laporan Hasil Kunjungan Lapangan ke Vidyasena Vihara Vidyaloka Yogyakarta
Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Buddhisme yang diampu oleh Dr. A. Singgih Basuki, MA

A.    Latar Belakang

Vidyasena Vihara Vidyaloka merupakan salah satu tempat ibadah umat buddha di Yogyakarta. Vihara yang terletak ditengah kota ini jogja ini sangat strategis, tepatnya di Jalan Kenari, GG. Tanjung I no.231, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, pasalnya vihara ini tak jauh dari kantor pemerintahan kota kodya Yogyakarta, seperti Balaikota Yogyakarta dan berbagai kantor dan kementrian kodya Yogyakarta.
Untuk mengenal lebih jauh vihara ini, perlu diketahui bahwa vihara ini berdiri pada tanggal 1 Februari 1987 dengan nama organisasi Vidyasena. Dalam bahasa sansekerta “vidya” berarti pengetahuan dhamma dan “sena” berarti prajurit atau tentara penjaga, sehingga vidyasena berarti prajurit pengetahuan Dhamma. Perlu diketahui Vidyasena mendapat pembinaan moral dan bimbingan dhamma  dari sangha Theravada Indonesia dan Majlis Pandita Buddha Dhamma Indonesia. Jadi sungguh pas organisasi Vidyasena berkiprah  di vihara yang bernama Vidyaloka (yang berarti “tempat pengetahuan Dhamma”).[1]
Selain itu, perlu diketahui vihara ini cukup unik bagi saya, karena vihara ini mayoritas jemaatnya adalah kaum muda umat Buddhis yang juga sebagai mahasiswa yang sedang kuliah di Yogyakarta. Jadi, kebanyakan jemaatnya sendiri bukan orang jogja, melainkan mahasiswa penganut buddha dari berbagai wilayah di Indonesia, sebagaimana narasumber dalam laporan ini juga bagian para mahasiswa tersebut. Dan oleh karenanya vihara ini banyak dikunjungi oleh para mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta untuk mengenal, mengetahui ataupun sharing tentang Buddha.
Dari berbagai pemaparan diatas, maka tak perlu banyak alasan penulis sampaiakan untuk memutuskan menggunjungi vihara tersebut, sebagaiamana untuk bukti laporan tugas kunjungan lapangan ke komunitas ataupun organisasi Buddha.



B.     Tujuan
Setelah mempelajari berbagai hal tentang Buddhisme dari berbagai buku, serta hasil perkuliahan Buddhisme di UIN Sunan Kalijaga. Maka tak lain, tujuan pembuatan laporan wawancara dan kunjungan adalah untuk mengetahui bagaiamana pandangan langsung umat buddha terhadap Buddhisme. Juga pembuatan laporan ini untuk memenuhi tugas yang diberikan dalam mata kuliah Buddhisme berupa kunjungan lapangan ke lembaga atau komunitas buddha.

C.     Penanya dan Narasumber
Penanya           : Muhammad Habibul M
Status              : Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Narasumber 1  : Mbak Meta
Status              : Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Narasumber 2  : Mas Erick
Status              : Mahasiswa Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta

Mereka berdua adalah mahasiswa berasal dari luar Jogja yang sedang kuliah di Yogyakarta. Mbak Meta adalah mahasiswi dari Jawa Tengah, asli orang jawa dan sejak kecil sudah menganut Buddha. Mas Erick adalah mahasiswa dari Sumatera Utara keturunan china, asli dan lahir di Indonesia. Mereka berdua adalah anggota jemaat di vihara Vidyaloka, yang juga ikut membantu mengurus vihara.

D.    Waktu dan Tempat
Tanggal           : 16 November 2016
Pukul               : 14.00 wib-15.00 wib
Tempat            : Vihara Vidyaloka Yogyakarta
Alamat            : Jalan Kenari, GG. Tanjung I no.231, Muja Muju, Umbulharjo, Kota      Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

E.     Hasil Wawancara

Daftar pertanyaan                                       
1.      Bagaimana kepengurusan vihara ini?
2.      Saya ingin mengetahui tentang vihara ini, bentuk dan kondisinya?
3.      apakah ada biksu dan Sanghanya di vihara ini?
4.      Proses ibadah di vihara ini bagaimana?
5.      Ibadahnya  kapan saja apa?
6.      penjelasan tentang samadhi seperti apa?
7.      Cara samdhi apa harus duduk?
8.      Boleh  minta penjelasan tentang altar buddha dan barang di sekitarnya bagaimana?
9.      Penjelasan tentang Nirwana dalam Buddha seperti apa?
10.  Menurut narasumber (mbak) buddha itu seperti apa?

Daftar pertanyaan diatas adalah beberapa pertanyaan yang penulis ajukan saat wawancara dengan narasumber, sebenarnya masih ada banyak pertanyaan, terutama pertanyaan yang bercabang karena butuh penjelasan lagi ataupun pertanyaan tentang perkenalan. Berikut hasil ulasan kronologis saya dari wawancara yang dilakukan:
Dalam melakukan kunjungan ke vihara Vidyaloka pada hari rabu tanggal 16 November 2016, sebelumnya sehari sebelumnya saya melakukan kunjungan,  seperti seorang pengunjung saya ketuk pintu dan bertemu pengurus sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan melakukan kunjungan. Ternyata dari kunjungan tersebut untuk melakukan kunjungan harus melakukan perjanjian waktu kunjungan dulu, saya pun mendapat nomor pengurus vihara dan akhirnya dapat melakukan kunjungan ke vihara pada hari rabu tersebut.
Sesuai jadwal pada hari rabu, 16 November 2016 saya melakukan kunjungan ke vihara. Disana saya langsung dijamu pengurus vihara yang bertugas yakni mbak Meta dan temannya mas Erik, kami pun langsung bertemu di ruang tamu dan memulai obrolan sesuai dengan maksud dan tujuan saya ke vihara.
Dari obrolan wawancara tersebut, tentunya saya mendapat tambahan wawasan tentang  buddhisme dan pengalaman langsung berkunjung ke vihara.
Vihara vidyaloka ini terlihat seperti bangunan pada umumnya, jadi kebanyakan orang-orang akan mengira itu bukan sebagai tempat ibadah, jika tidak ada plakat nama tertera di sekitarnya.  Namun setelah masuk, tentu akan merasakan sesuatu yang berbeda, karena ada buku-buku dan juga patung. Vihara ini terdiri dari 3 lantai, lantai pertama yang saya lihat terdapat ruang kantor, mini perpustakaan, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.  Dan lantai 2 dan 3 digunakan untuk tempat ibadah umat buddha, dimana ada altarnya di lantai 2 ataupun lantai 3. Tentunya altar tersebut digunakan untuk aktivitas peribadatan umat buddha. Biasanya lantai 3 digunakan jika lantai 2 sudah penuh jemaat saat puja bhakti tiap minggu.
Selain itu, saya mengetahui jika benda-benda di altar hanyalah simbol dan memiliki makna tersendiri. Umat buddha bukanlah penyembah patung, itu hanyalah representasi dari sang buddha, begitupun dengan bunga, dupa, lilin memiliki makna tersendiri dalam ajaran buddha.
Dari hasil wawancara juga, saya mengetahui jika nirwana bukanlah suatu alam, seperti konsep surga dalam ajaran islam. Nibbana hanyalah sebuah kondisi batin seseorang. Juga mengetahui tentang apa harus menjadi biksu untuk mencapai nirwana, sepertinya susah jika untuk umat biasa apalagi tanpa mengamalkan ajaran-ajarannya.
Dan konsep samadhi, saya mengetahui jika samadhi bisa diaplikasikan selain dengan duduk. Karena sejatinya efek samadhi dapat untuk instropeksi diri, dan juga semakin banyak samadhi semakin bagus kualitas seorang buddha. Seperti halnya narasumber, yang sering melakukan samadhi dengan baca doa setiap hari pada pagi hari setelah bangun tidur.
Dan yang terakhir, bagi umat buddha, Sidharta Gautama sosok manusia yang sempurna dari fisik dan kepribadiannya. Sosok maha guru dan ajaran-ajarannya yang mampu membimbing manusia.


Transkrip wawancara
mbak Meta        : perkenalkan saya Meta, pengurus di vihara ini. (bersalaman)
saya                  : terima kasih telah diterima melakukan kunjungan ke vihara ini,                    sebelumnya perkenalkan saya Habibul mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga, guna melakukan kunjungan sebagai tugas matkul Buddhisme.
Mbak meta        : oh, dari UIN ya, kok sendiri aja, biasanya kalau ada kunjungan itu bekelompok.  Dan perkenalkan juga, ini temen saya Erik dia dari Medan,Sumatera Utara, dia keturunan China tapi asli indonesia kok,, eh, rik tahu UIN nggak?
Saya                  : iya mbak gak ada temen, jadi ya sendiri aja.
Mas Erik           : tahulah, perkenalkan saya Erik, saya dari Medan, saya ada darah keturunan china seperti mbak Meta bilang,
Mbak Meta        : kalau masnya dari mana ya? Rik ambilin minum buat masnya…
Saya                  : saya asli Jogja mbak, tepatnya Bantul.
Mbak Meta        : oh,saya dari Jawa Tengah, kuliah di Mercubuana,kalau  Mas erik di Sanathadharma,,eh,  kuliah di UIN, ada tentang buddha juga ya, itu jurusan apa?
Saya                  : perbandingan Agama mbak, fakultas Ushuluddin dan pemikiran Islam
Mbak Meta        : jurusannya tu bahas apa ya,,tentang agama?
Saya                  : ya tentang perbandingan agama, saya sendiri masih awam, pembahasanya tentang mengkaji agama-agama dari aspek sejarah , juga pemikiranya. Sebenarnya matkul ini untuk semester 5, saya sendiri msih semester 3 mbak. Mbak ini vihara seperti apa ya, tempat ibadahnya mana ya?
Mbak Meta        : oh, ini vihara ada tiga lantai, altar terletak di lantai 2 dan 3, lantai pertama buat kantor, bisa kok tengok ke atas.
Saya                  : Eh, mbaknya buddhis kan?
Mbak Meta        : iya, saya dari kecil udah menganut buddha mas, silahkan tanya mas jangan sungkan.
Saya                  : kalau ngak salah pengurusnya mahasiswa ya, ada sangha dan biksunya nggak?
Mbak Meta        : iya, ada pengurusnya, emang pengurusnya ada dari mahasiswa, alumni, pokoknya kaum muda kebanyakan pengurursnya. Kalau sangha disini adanya di Mendut, juga biksu jarang ada, adanya pas  acara besar, jadi menggundang biksu. Namun disini tetap ada Puja Bhakti tiap minggu.
Saya                  : Puja Bhakti itu wajib ya?
Mbak                 : di agama buddha ngak ada istilah wajib mas, beda dengan islam mas yang ada kewajiban  sholat. Di Buddha setiap orang memiliki kebebasan atas kesadaran masing-masing.
Saya                  : oh,,di buddha ada semedi ya?
Mbak                 : namanya samadhi mas, itu seperti meditasi juga konsentrasi. Ada pelatihannya juga di vihara ini.
Saya                  : samadhi itu hanya dilakukan dengan duduk saja ya?
Mbak                 : biasanya emang duduk, dan dilakukan di tempat sepi. Tapi bisa juga dilakukan di tempat ramai, juga bisa dengan berbagai posisi, seperti berdiri juga, intinya melatih diri konsentrasi, instropeksi diri, saya sendiri biasanya melakukan samadhi pagi-pagi habis dari bangun tidur, juga melakukan baca doa dalam samadhi.
Saya                  : ,,mbak, boleh lihat tempat ibadahnya?
Mbak Meta        : oh, mari mas,, ke lantai atas,,ini mas altar buddhanya disinilah tempat untuk puja bhakti.
Saya                  :Boleh  minta penjelasan tentang altar buddha dan barang di sekitarnya bagaimana?
Mbak Meta        : ya, ini patung buddha , umat buddha ngak nyembah patung ya,,itu Cuma buat gambaran aja, seperti islam menghadap ka’bah, kristen apa rik, salib patung kristus itu,,ya seperti itu,,terus kalau bunga-bunga itu melambangkan ketidakkekalan, kan bunga nanti juga bisa layu, kalau dupa itu melambangkan keharuman sang buddha, terus lilin melambangkan cahaya atau  penerangan, dari sang buddha.
Saya                  : kalau yang ditengah itu apa ya? Terus payung itu buat apa, kok kaya di kraton?
Mbak Meta        : itu, relik mas, isinya ada abu dari orang suci,,,terus biasanya juga ada air yang melambangkan kerendahan hati,, kalau payung itu gak ada dalam buddha, maknanya, itu dari budaya jawa, mungkin biar sesuai kraton atau budaya setempat, iya kan karena di jogja jadi untuk menyesuaikan budaya yang ada aja.
Saya                  :umat Buddha ibadahnya harus ke vihara juga ya?
Mbak Meta        : iya lebih baik di vihara, karena bisa sekaligus mendapat ajaran dharma.
Mas Erik           : sebenarnya gak harus ke vihara, kita bisa juga melakukan di rumah ataupun di tempat lainnya jika tidak memungkinkan ke vihara. Kita bisa menggunakan gambar sang buddha untuk beribadah, ataupun jika ntidak memungkinkan cukup kita fokus seolah-olah menghadap sang buddha.
Saya                  : kalau soal nirwana itu seperti apa?
Mbak Meta        : penjelasanya susah mas, nibbana yang perlu diketahui itu bukan alam,dimana kita hidup,yang mana ada 31 alam, gak  seperti surga dalam islam juga, nibbana itu kondisi batin sesorang,yang kosong  telah bebas dari keinginan.
Saya                  : oh gitu, apa harus mati untuk mencapai nibbana? Terus kalau mencapai nibbana apa harus jadi biksu juga?
Mbata               :mencapai nibbana itu ada dua kondisi,saya lupa namanya, gak harus mati juga bisa, seperti sang buddha.  Soal mencapai nibbana itu akan sulit jika tidak menjadi bikkhu, tapi para uphasaka bisa walaupun sangat sulit, dengan menggamalkan ajaran-ajarannya.
Saya                  : pertanyaan terakhir, boleh tahu pendapatnya tentang sang buddha?
Mbak Meta        : bagi saya, sang buddha adalah sosok maha guru, sosok yang maha sempurna fisik maupun kepribadiannya, yang ajarannya sempurna. Sosok manusia yang sempurna lah bagi saya. Kalau kamu gimana rik?
Mas Erik           : hampir sama dengan mbak Meta, buddha adalah sosok manusia yang sangat sempurna, dan soal apa sosok buddha seperti patung umat buddha, menurut saya tidak benar, karena itu hanya gambaran saja, sosok aslinya pasti dia seorang yang sempurna bagi saya.
Saya                  : ya, sekiranya sudah cukup mbak tanya-tanya saya,terima kasih telah bersedia untuk saya tanayai, mungkin lain kali saya akan datang lagi.
Mbak Meta        : iya mas, sama-sama, jika masih ada yang ditanyakan bisa chat nomor saya, janjian ketemu di vihara kita ngobrol-ngobrol lagi. Terima kasih juga atas kunjungannya.

F.      Penutup

Dari hasil wawancara di vihara vidyaloka ini, tentunya penulis mendapat wawasan baru tentang buddhisme. Tak perlu banyak kata, penulis jadi semakin mengenal, tentang umat buddha, tentang Vihara, Altar, Samadhi, Buddha, Nirwana atau nibbana, puja Bhakti dan sebagainya.
 Dalam penulisan laporan ini, mohon maaf jika masih ada kekurangan ataupun kesalahan dalam penulisan ini, tentunya penulis menerima kritik ataupun saran yang membangun guna menjadikan lebih baik penulisan laporan untuk kedepaanya.






[1] Ngasiran,“Vidyasena Vihara Vidyaloka Yogyakarta Rayakan Ulang Thun ke 29”, Diambil dari www.buddazine.com/vidyasena-vihara-vidyaloka-yogyakarta-rayakan-ulang-tahun-ke-29/, pada 20 November 2016 jam 21.00 Wib.

POSTINGAN TERBARU

Keselamatan Umat non Islam dalam Al-Qur'an

MENINJAU ULANG POSISI AHLI KITAB DALAM AL-QUR’AN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hermeneutika Dosen: Prof. Syafa...